Jarimu, Harimau Kamu: Resume Nanda 8D absen 31




 

 Resume Blog Jarimu Harimau Kamu

  • nanda 8D absen 31

1. Perubahan Pepatah

  • Pepatah lama “mulutmu harimaumu” berasal dari kearifan lokal yang bermakna ucapan bisa menyelamatkan atau mencelakakan diri sendiri. Kata-kata yang terucap tidak bisa ditarik kembali dan dapat 
  • berakibat buruk bila tidak dipikirkan dengan baik.
  • Seiring perkembangan teknologi, pepatah itu sering dimodifikasi menjadi “jarimu harimaumu”. Ungkapan baru ini muncul karena di era digital, lebih banyak orang berkomunikasi melalui tulisan ketikan jari di media sosial, aplikasi pesan, atau forum daring.
  • Kasus nyata menunjukkan banyak orang terkena masalah hukum akibat unggahan di media sosial. Contohnya, beberapa orang dijerat UU ITE karena komentar atau cuitan yang dianggap mencemarkan nama baik. Hal ini menegaskan bahwa jari kini bisa menjadi “harimau” yang menggigit pemiliknya.
  • Pergeseran pepatah ini juga selaras dengan fenomena global yang menekankan pentingnya literasi digital. Banyak kampanye publik mengingatkan bahwa “think before you click” atau berpikir dulu sebelum menulis.
  • Dengan demikian, pepatah baru ini mengajarkan bahwa bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga tulisan digital yang harus dijaga agar tidak menimbulkan masalah.

2. Makna Menulis

  • Menulis adalah kegiatan menuangkan pikiran, perasaan, dan ide dalam bentuk bahasa tulis.
  • Kegiatan menulis berfungsi untuk:
    • Merekam pikiran → apa yang ditulis akan menjadi dokumentasi yang bisa diingat kembali.
    • Menyampaikan pesan → tulisan menjangkau lebih banyak orang daripada ucapan lisan.
    • Mendidik → tulisan bisa menjadi sarana pembelajaran dan penyebaran ilmu pengetahuan.
    • Menginspirasi → tulisan mampu memotivasi pembaca untuk bertindak lebih baik.

3. Makna Menulis di Dunia Digital

  • Setiap tulisan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.
  • Tulisan positif → bermanfaat, mengangkat citra diri, dan menjadi sumber prestasi.
  • Tulisan negatif → bisa menimbulkan masalah hukum maupun sosial.
  • Tulisan mencerminkan kepribadian penulis di mata publik.
  • Bijak menulis di dunia digital = menjaga nama baik sekaligus melindungi masa depan.
  • Menulis di era digital juga berarti:
  • Membangun reputasi di dunia maya.
  • Menjadi bagian dari arus informasi global.
  • Menjadi sarana kolaborasi dengan orang di berbagai tempat.

3. Pemanfaatan Platform Digital

  • Blog → media utama untuk menulis artikel, refleksi, atau catatan.
  • YouTube → sarana berbagi ilmu dan pengalaman melalui video.
  • Instagram dan TikTok → wadah mengasah kreativitas dan membangun jangkauan audiens.
  • Ponsel → mempermudah proses menulis karena tidak harus bergantung pada laptop.
  • Teknologi membuat siapa saja bisa menulis kapan saja dan di mana saja.

4. Empat Pilar Literasi Digital

  1. Digital Skill
    • Keterampilan menggunakan blog, media sosial, dan aplikasi digital.
    • Membuat konten positif dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video.
  2. Digital Ethic
    • Menjaga sopan santun dan etika saat berinteraksi di dunia maya.
    • Menghindari ujaran kebencian dan konten yang merugikan orang lain.
  3. Digital Culture
    • Membangun budaya positif dengan membanjiri internet melalui konten bermanfaat.
    • Melawan hoaks dan informasi palsu.
  4. Digital Safety
    • Melindungi data pribadi dari penyalahgunaan.
    • Mencegah peretasan akun dan penipuan digital.

5. Pelatihan Daring untuk Guru

  • Diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan disiarkan ulang di YouTube.
  • Materi pelatihan: keterampilan berbicara di depan umum, keterampilan menulis, serta cara menerbitkan buku.
  • Peserta berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang beragam.
  • Pelatihan terbuka dan gratis, sehingga mudah diakses banyak guru.
  • Hasil nyata: semakin banyak guru mampu menulis dan menerbitkan buku.

6. Gerakan Menulis Guru

  • Ratusan guru berhasil menerbitkan buku dari hasil pelatihan.
  • Penerbit mayor: Penerbit Andi di Yogyakarta.
  • Penerbit indie: Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).
  • Sistem penerbitan: “bayar seikhlasnya” untuk mempermudah proses.
  • Menjadi penulis dipandang sebagai mahkota yang membanggakan bagi seorang guru.

7. Kolaborasi dan Pengayaan Materi

  • Peserta pelatihan memberikan masukan agar materi teknis digital diperbanyak.
  • Masukan ditampung dan digunakan untuk memperbarui materi.
  • Kolaborasi dilakukan dengan berbagai pihak, misalnya melalui webinar “Makin Cakap Digital”.
  • Webinar menghadirkan praktisi literasi digital untuk memperkuat pemahaman peserta.
  • Kolaborasi memperkaya isi pelatihan dan membuatnya lebih relevan.

8. Inti Pesan Tulisan

  • Jari adalah alat penting dalam membentuk jejak digital seseorang.
  • Tulisan positif akan membawa manfaat, sementara tulisan negatif bisa menimbulkan masalah.
  • Pemanfaatan jari harus diarahkan pada kegiatan produktif, seperti menulis karya, berbagi ilmu, dan menyebarkan motivasi.
  • Dunia digital dapat menjadi ruang prestasi bila digunakan dengan bijak.
  • Setiap orang dapat berkontribusi menciptakan ekosistem digital yang sehat dan produktif.


Comments

  1. Wah keren banget sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  2. berman faat sek li aku baca nya lang sung pin ter

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah saya menyempatkan waktu saya untuk membaca artikel ini, karena saya dapat wawasan baru tentang perihal jarimu harimaumu, jadi saya tau makna dalamnya.

    ReplyDelete
  4. Keren, sangat bermanfaat dan memberi ilmu

    ReplyDelete
  5. wah artikel ini sangat bagus untuk di baca dan sangat bermanfaat, keren

    ReplyDelete
  6. bermanfaat dan ilmunya dapet bangett

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Nanda 8D, Rangkuman Bab 1 Informatika - Jaringan Komputer dan Internet

Dampak Sosial Informatika pada aplikasi percakapan Bab 3 - Nanda 8D absen 31